Perjalanan dari Rumah ke Kampus

Dari Rumah ke Kampus dan Kembali

18 Oktober 2023

 Kampus adalah tempat untuk menuntut ilmu. Ilmu yang dipelajari di kampus bersifat sangat penting untuk dunia kerja. Mahasiswa ada yang memilih untuk tinggal di kos supaya menghemat waktu perjalanan. Tetapi kos memerlukan biaya yang cukup banyak. Oleh karena itu ada mahasiswa yang memilih untuk tetap tinggal bersama orangtua atau rumah asal mereka dan saya adalah sala satu orang tersebut.

Perkenalkan nama saya Fascal, saya tinggal di Cibubur, bagian selatan Kota Bekasi bersama orangtua saya. Saya kuliah ITL Trisakti di Kebon Nanas, Jakarta Timur. Saya memilih untuk tinggal bersama orangtua saya selama kuliah terutama karena fasilitas dan kepemahaman saya dengan lingkungan rumah dan perumahan. Alasan kedua karena biaya. Kos di sekitar Jakarta memiliki harga yang lumayan tinggi dan saya tidak terlalu tahu banyak mengenai lingkungan sekitar.Pilihan saya untuk tetap di rumah disebabkan dari diri sendiri. Saya kadang-kadang bepikir, banyak orang yang kerja di Jakarta tinggal di perumahan disekitar daerah Jakarta dan karena itu saya berpikir bahwa jika hidup kerja saya akan seperti itu, mengapa saya tidak mencobanya sekarang. 

Untuk rute perjalanan terdapat dua pilihan. Pertama menggunakan jalan raya Bogor. Kedua menggunakan jalan Hankam, Waringin, Pahlawan Revolusi, kemudian jalan Masjid Baitul Latif. Keduanya hanya memiliki perbedaan tiga sampai sepuluh menit. Faktor terbesar yang menentukan waktu rute perjalanan tersebut adalah kepadatan lalu lintas. Rute jalan raya Bogor memilki empat jalur jalan sedangkan Hankam dan Masjid Baitul memiliki dua jalur dan Waringin dan Pahlawan Revolusi memiliki empat jalur. Menurut saya jalanan dengan jalur yang banyak lebih mudah dilewati saat keadaan padat atau macet karena jalan empat bahu terdapat celah diantara mobil yang bisa dilewati motor. Sedangkan jalanan dua jalur kemungkinan besar tidak terdapat celah antara mobil yang besar dan berbahaya karena celah antara mobil yang berlawanan arah. 

Setelah beberapa kali mencoba kedua rute tersebut, saya membuat kesimpulan dari kedua rute tersebut. Untuk rute jalan raya Bogor, jalanan tersebut kemungkinan besar padat saat pagi dan sore hari. Kesibukan jalan raya Bogor menurut saya disebabkan karena orang-orang yang pergi ke tempat kerja dari Bogor ke Jakarta menggunakan kendaraan beroda dua. Selain itu terdapat banyak angkot yang menghalang bahu jalan untuk menjemput dan menurunkan penumpang. Sebab terakhir adalah kendaraan yang parkir di bahu jalan untuk mengunjungi pedagang. Karena hal-hal tersebut rute jalan raya Bogor lebih baik digunakan pada siang hari. 

Rute Hankam menurut saya yang tidak terlalu buruk. Frekuensi kemacetan sedikit berbeda dan meskipun jalan tidak luas dan saat macet kadang-kadang harus menunggu diantrian mobil tetapi saya tidak terlalu khawatir terkena pengendara motor lain. Sisi negatif dari jalan ini adalah angkot dan kendaraan besar yang biasa bergerak lambat dan persimpangan tiga yang menyebabkan macet karena pengendara yang tidak suka mendahulukan. Rute Hankam menurut saya tidak terlalu buruk, rute ini menjadi pilihan utama saya dari Cibubur ke Kebon Nanas.

Jadi kedua rute tersebut memiliki tingkat kesibukan yang sama dan penggunaan rute dilakukan berdasarkan waktu dan suasana. Sejak September 2023 sampai Oktober saya kadang-kadang terasa tenang atau tidak nyaman saat melewati tersebut. Setiap perjalanan saya harus melihat kondisi jalanan melalui aplikasi dan mengestimasi waktu tempuh perjalanan dari rumah ke kampus. 

Saya biasa pilih datang dengan satu jam sebelum kelas dimulai supaya saya tidak terburu-buru dijalan, saat di jalan harus terasa tenang supaya bisa memerhatikan situasi di sekitar jalan. Sebenarnya saya orang yang menikmati mengendarai kendaraan. Tetapi kemacetan menyebabkan perjalanan tidak bisa dinikmati dan hal rasa negatif tersebut bisa mempengaruhi performa kuliah. 

Pilihan alternatif untuk saya adalah transportasi umum. Pada akhir September stasiun LRT di Harjamukti telah dibuka. Stasiun Harjamukti terletak dekat gerbang tol Jagorawi Cibubur dan Mal Cibubur Junction. Jarak stasiun tersebut dengan rumah adalah sekitar 10 sampai 15 menit dengan angkot, yaitu sedikit lambat dibandingkan dengan motor. Hal positif dari LRT adalah kenyamanan. Meskipun lebih lama, waktu tambahan tersebut bisa digunakan untuk istirahat atau belajar. Waktu LRT dari Harjamukti sampai stasiun terdekat yaitu stasiun Cawang adalah sekitar 50 menit. Setelah itu 15 menit jalan kaki ke stasiun busway Cawang Soetoyo yang berlanjut dengan perjalanan bus 5 menit ke stasiun Kebon Nanas dan diakhiri dengan jalan kaki 5 menit ke kampus. Total biaya pulang-pergi dengan transportasi umum adalah 60.000 rupiah yang dalam waktu lima hari dengan total 300.000 rupiah. 300.000 rupiah adalah biaya yang sangat tinggi, penggunaan motor perminggu hanya memerlukan saya untuk menutupi biaya bensin 60.000 rupiah dan dalam sebulan saya menghabiskan 240.000 rupiah dibandingkan dengan 1.200.000 rupiah dengan transportasi umum. Meskipun lebih mahal, transportasi umum bisa menjadi pilihan saat musim hujan dan jika perlu istirahat di jalan.

Jadi, selama perkuliahan saya harus bisa menentukan rute yang tepat dan berusaha untuk menikmati kondisi jalanan. 






Comments